Sabtu, 18 Oktober 2008

KACAMATA SUASANA

Oleh: Leonarda Katarina Erika Untung

Doraemon dan Nobita. Pernahkah kamu menonton kisah mereka? Kepribadian sepasang sahabat itu sangat menarik. Di satu sisi, Doraemon adalah pribadi yang selalu ceria dan selalu menyemangati Nobita. Dan di sisi lain, Nobita adalah seorang anak yang selalu merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apapun dan selalu mengandalkan orang lain, terutama Doraemon.

Pada suatu hari, saya sedang bersantai dan melihat tayangan video Doraemon di YouTube. Dan pada edisi yang saya tonton, ada sebuah pelajaran menarik yang dapat saya petik dan saya ingin membagikannya melalui artikel ini.

Edisi yang saya tonton berjudul “Kacamata Suasana”. Dikisahkan bahwa pada suatu siang, Nobita pulang sekolah dalam keadaan panik karena akan ada ujian olahraga pada esok harinya. Karena itu, Giant (teman Nobita yang paling kuat) memaksa teman-temannya untuk melakukan latihan fisik pada sore harinya. Nobita kemudian mengeluh pada Doraemon bahwa dia pasti akan menjadi yang paling lamban, yang paling lemah, serta diejek oleh teman-temannya yang lain karena ia pikir bahwa biasanya memang begitu. Kemudian karena Doraemon kasihan melihat sahabatnya, maka ia pun mengeluarkan sebuah Kacamata Suasana.

Kacamata Suasana mempunyai 5 tombol yang dapat mengatur suasana hati pemakainya, yaitu merah (marah), kuning (ceria), hitam (sedih), biru (terharu), serta putih (netral). Kemudian Nobita memakainya pada latihan fisik di sore. Ketika latihan lompat jauh, Nobita pun menekan tombol kuning sehingga suasana hatinya menjadi ceria dan ia dapat melambung tinggi karena melompat bahagia. Pada saat latihan memukul baseball, Nobita menekan tombol merah, sehingga suasana hatinya dipenuhi oleh emosi yang menggebu-gebu ketika akan memukul dan pukulannya ternyata menghasilkan home run. Demikian seterusnya hingga latihan fisik tersebut berakhir. Dan hasilnya adalah: Nobita ternyata mempunyai potensi luar biasa yang selama ini tidak disadarinya. Bahkan teman-temannya pun terpana melihat kemampuan Nobita (mereka tidak mengetahui bahwa ternyata Nobita menggunakan Kacamata Suasana untuk mengatur mood-nya).

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu selalu merasa bahwa kamu itu tidak PeDe, lemah, bodoh, payah, dkk? Kemudian kamu menyibukkan pikiran dengan mengeluh dan mengeluh. Kamu juga terlalu sibuk mengucapkan “...seandainya ... seandainya ...“ Bahkan ketika ada tantangan, kamu pun sibuk berpikir bahwa biasanya memang begitu (sama seperti image negatif yang selalu dikeluhkan). Kalau begitu, kamu tidak ada bedanya dengan Nobita donk. Namun bedanya adalah tidak ada robot dari masa depan seperti Doraemon yang dapat menolong kamu.

Saya ingin berbagi pengalaman bahwa memang benar apa yang kita pikirkan itu akan memberikan dampak yang berarti pada apa yang akan dihasilkan. Pada waktu kompetisi saya yang pertama melalui sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di BiNus, sebenarnya saya nekat saja pada waktu ditanya apakah mau mencoba ikut kompetisi tersebut atau tidak (story telling di sebuah universitas). Pada awalnya saya menyetujui untuk didaftarkan bukan karena saya PeDe bahwa kemampuan saya dalam bidang bahasa Inggris itu bagus ... tidak, bukan karena itu. Tapi lebih dikarenakan oleh dorongan dari beberapa senior saya yang yakin bahwa saya cukup ‘gila’ untuk mengikuti kompetisi tersebut (karena saya adalah tipe orang yang nekat).

Seminggu sebelum kompetisi (setelah briefing dari pihak panitia), saya langsung D–O–W-N. Karena apa? Structure grammar, creativity, pronounciation, dkk, semuanya itu dinilai! Ya ampun. Pikiran saya mulai dikuasai oleh hal-hal negatif hingga saya sempat menyesali karena telah mendaftar kompetisi tersebut. Sebagai info, bahwa sebelum masuk kuliah, saya sangat membenci yang namanya bahasa Inggris. Sudah menjadi momok banget karena pengalaman saya belajar bahasa Inggris dengan guru-guru yang bukannya membuat saya termotivasi, malah membuat saya membenci pelajaran tersebut karena kejadian-kejadian tertentu.

Namun, ada 2 orang senior saya yang mungkin dapat dikatakan bahwa tingkat ‘nekat dan gila’-nya sama dengan saya. Mereka kemudian memberikan saya latihan ‘private’ yang darurat. Pada hari pertama dan kedua, saya bahkan hanya dapat menggumam karena saya grogi untuk tampil di depan umum, padahal ketika face to face saya bisa ‘lepas’ bicara dan bertingkah apa adanya. Hari ketiga, senior saya memberi saya motivasi yang sangat bagus: “Ketika kamu berada di depan penonton, jadilah tokoh dalam cerita tersebut. Pada saat itu, jangan masukkan pikiran dan perasaanmu ke dalam cerita. Tapi kamulah yang harus dapat masuk ke dalam mood cerita tersebut. Kamu hanya punya 2 pilihan hasil ketika kamu tampil. Yang pertama, kamu maju ke depan dengan ‘lepas dan PeDe’ atau bahkan bertingkah malu-maluin pun tidak apa-apa karena itu akan meninggalkan kesan bagi yang melihatnya ... dan penonton akan bersorak-sorai karena penampilanmu yang luar biasa. Atau yang kedua, kamu sudah panik dan cemas duluan sehingga ketika di depan kamu terlihat seperti orang bodoh, kemudian penonton akan berteriak ‘huuu..’ pada kamu. Itu malah memalukan. Semua ending itu, kamu yang menentukan.. “.

Pada saat itu juga saya tersentak. Kalau saya hanya sibuk berpikir bahwa saya panik, cemas, takut, dkk. Tetap saja masalah di depan saya tidak akan berubah. Namun, sayalah yang harus berubah agar saya tidak malu-maluin di depan penonton. Saya segera mengubah cara berpikir saya. Setiap kali pikiran negatif saya mulai menggoda, saya berusaha untuk meyakinkan bahwa diri saya mampu. Saya mulai latihan mimik serta gerakan lucu dengan bercermin. Bahkan untuk menambah kefasihan saya berbahasa inggris lisan, saya sampai latihan hingga larut malam. Berulangkali saya yakinkan diri saya kalau bahasa Inggris itu menarik. Hingga lama kelamaan tanpa sadar saya sekaligus belajar hal-hal baru juga, terutama grammar, vocabulary, dan pronounciation. Dan hasilnya ... Puji Tuhan, tanpa disangka penampilan saya menarik perhatian para juri dan penonton hingga membuahkan prestasi.

Sejak kejadian itu, ketika menghadapi tantangan akan masalah apa pun di dalam hidup sehari-hari, saya selalu ingat akan pengalaman di atas. Yakinlah bahwa setiap dari kamu dan saya pada dasarnya mempunyai potensi yang belum disadari. Dan untuk menyadari hingga potensi tersebut dapat dikembangkan. Mulailah dari pikiran kita dulu. Masalah? Inget Kacamata Suasana Doraemon… Jangan sampai salah tekan tombol untuk mengatur bagaimana cara kamu melihat masalah itu…

Ingat, bahwa ending segala sesuatu dalam masalah yang kamu hadapi, sebenarnya itu bergantung pada bagaimana kamu melihat masalah. Ketika kamu melihat bahwa masalah itu pasti ada solusinya, maka suasana hatimu akan senang sehingga kamu bersemangat. Segala sesuatu yang dilakukan dengan bersemangat akan menunjukkan penampilan terbaikmu.

--Terinspirasi dari pengalaman pribadi. Terimakasih kepada Joni Liu (BiNusian 2006) dan Angelina Tejaya (BiNusian 2007) yang telah membuat saya belajar sesuatu yang sangat berharga.--

* Leonarda Katarina Erika Untung lahir di Jakarta, 24 Maret 1987 dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa Universitas Bina Nusantara Jurusan Teknik Informatika. Tahun 2005-awal 2007 ia pernah aktif dan berprestasi sebagai story teller, scrabble player, dan tutor di Bina Nusantara English Club. Selain kuliah, ia adalah pengajar lepas komputer, desain, web freelancer, dan moderator di Jawaban.Com. Erika dapat dihubungi di: E-mail: erikauntung@yahoo.com atau blog: http://leoerk.multiply.com/

MENGHARGAI DIRI

Oleh: Syahril Syam

Suatu ketika ada seorang perempuan muda, sebut saja Nidar, datang untuk berkonsultasi kepada saya. Ia merasa ada sebuah penghalang besar yang menghalangi dirinya, sehingga ia tidak bisa meraih sukses atau pekerjaan yang layak bagi dirinya.

Akhirnya setelah melakukan beberapa interview, saya pun melakukan proses hypnotherapy kepada dirinya. Saya membawanya ke kondisi profound somnambulism, dan kemudian melacak problem sesungguhnya yang di alami oleh Nidar.

Ternyata ia merasa dirinya tidak cantik, tidak tinggi, dan tidak langsing. Padahal dalam pekerjaan yang pernah ia geluti sebelumnya, ia berharap seperti demikian. Padahal menurut saya, Nidar ini adalah perempuan yang cantik, tinggi, dan cukup langsing. Tapi ia tidak merasa demikian. Ia menghakimi dirinya sendiri. Nidar ini pada dasarnya merasa disepelekan dan tidak dihargai, dan ketiga kategori di atas adalah parameter ia merasa dihargai.

Akhirnya setelah melewati proses terapi selama satu setengah jam, akhirnya ia kembali menghargai dirinya sendiri. Setelah terapi, ia merasa badannya terasa sangat ringan, seperti ada sebuah beban yang tiba-tiba hilang dari dirinya. Ia merasa sangat plong, dan ia merasa seperti ingin terbang dan begitu bahagia.

Begitu banyak orang yang mencoba menyangkal dan tidak mengakui shadow mereka dengan melakukan yang sebaliknya dan berusaha untuk menutupinya. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menjadi pembenci orang lain atas sikap mereka, dimana sikap tersebut adalah shadow-nya sendiri. Steven, seorang konsultan bisnis sukses tapi gagal dalam membangun hubungan cinta pernah bercerita bahwa ia begitu membenci salah seorang yang ia temui. Steven menganggap orang tersebut pengecut dan Steven sangat membenci orang yang pengecut.

Setelah ia menyelami dirinya sendiri, ia mendapati dirinya sendiri bahwa saat ia berusia lima tahun, ayahnya mengajaknya masuk ke sirkus kuda. Steven belum pernah melihat kuda sungguhan, dan hal itu membuatnya menjadi takut. Ketika Steven mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin masuk ke sirkus kuda karena takut, ayahnya memarahinya, “Akan jadi laki-laki seperti apa kamu ini? Dasar bocah penakut, kamu mempermalukan keluarga kita.” Steven pun dihukum. Dan sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak lagi bersikap seperti penakut. Ia menghabiskan hidupnya untuk membuat ayahnya bangga. Ia meraih sabuk hitam karate, bermain futbol semasa kuliah, ikut angkat besi. Dan semua ini dilakukannya untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan banci.

Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan pengecut kepada ayahnya, dengan berusaha membuktikan dirinya; tapi ternyata kenyataan tersebut masih menghantui dirinya. Ia berusaha menolaknya dengan ikut membenci orang-orang yang pengecut. Dan sebagai bukti bahwa ia tidak menerima dirinya adalah bahwa ketika ia mencoba menjalin hubungan dengan perempuan, ternyata sikapnya menjadi penakut. Ia takut kepada perempuan, takut berkomunikasi secara jujur, dan hal ini mengakibatkan banyak masalah dalam kehidupan pribadinya.

Banyak orang membenci orang kaya, membenci orang lain bisa sukses, membenci keberhasilan orang lain, dan semua kebencian itu selalu dengan alasan yang nampak rasional. Sikap seperti ini mungkin saja karena orang-orang tersebut juga membenci dirinya sendiri dan membenci kekayaan, kesuksesan, dan keberhasilan.

Bahkan ada yang mencoba meraih suskes karena ingin membuktikan kepada keluarga, teman, dan orang lain bahwa dirinya bisa dan apa yang mereka ungkapkan itu tidak benar. Di satu sisi ini merupakan motivasi dan tidak jarang ada yang betul-betul sukses dan berhasil membuktikan dirinya. Tetapi, apakah kita ini sadar bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar menutupi kebencian dan berusaha membuktikan sesuatu, tetapi lebih kepada meraih kebahagiaan dan kesempurnaan yang hakiki menuju kepada Sang Sumber Cahaya.

* Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

KEPUTUSAN ANDA SENDIRILAH KUNCINYA

Oleh: Sugeng Widodo

Mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi pada malam hari, setiap hari dalam kehidupan pribadi kita selalu dihadapkan pada pilihan. Setiap keputusan atas suatu pilihan berupa pikiran, perasaan, sikap maupun tindakan kita membuahkan suatu hasil. Singkatnya hasil apapun yang kita capai di berbagai bidang kehidupan pribadi kita sungguh merupakan hasil keputusan kita sendiri. Sadarkah Anda?

Agar tidak menyesal, mulai sekarang juga ada baiknya Anda memutuskan pilihan tentang apa saja yang menjadi keinginan Anda. Tidak peduli posisi maupun level kehidupan Anda saat ini. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Banyak orang tidak tahu persis apa sesungguhnya yang diinginkan. Akibat tidak tahu persis yang diinginkan, maka yang sering diperoleh adalah yang tidak diinginkan.

Setelah Anda memutuskan suatu pilihan, lalu buatlah strategi atau langkah-langkah untuk mencapainya, dan bertindaklah sesuai dengan rencana yang ditetapkan tadi.

Anda perlu memperhatikan hasil sementara atas tindakan Anda. Dari hasil sementara itu Anda bisa mengetahui apakah tindakan Anda sudah sesuai dengan tujuan atau tidak. Jika tindakan Anda membuahkan hasil yang tidak diinginkan atau tidak membuat Anda lebih mendekati pada tujuan Anda, maka perlu dicermati mungkin tindakan Anda tidak tepat. Ubahlah strategi dan tindakan Anda, agar tindakan Anda bisa mendekatkan kepada tujuan. Jika tindakan Anda konsisten tujuan itu cepat atau lambat dapat dicapai.

Menetapkan Apa yang Diinginkan
Pernahkah Anda berpikir tentang kehidupan pribadi seperti apa yang Anda inginkan pada lima tahun mendatang? Karir atau bisnis apa yang Anda inginkan pada lima tahun mendatang? Petanyaan serupa dapat Anda pertanyakan pada aspek kehidupan pribadi Anda yang lain seperti spiritual, kesehatan, keluarga, pendidikan atau pengembangan diri, sosial, hobi, termasuk aset berupa harta benda Anda.

Bagaimana cara mengetahui apa yang kita inginkan? Mudah saja, cara pertama, imajinasikan bila saat ini juga Allah SWT mengabulkan semua doa Anda, apa saja yang Anda ingin terwujud, Anda miliki, Andai capai, tempat untuk Anda kunjungi? Tulislah semua yang Anda inginkan.

Cara kedua, Anda juga bisa mulai dengan menentukan apa yang tidak anda inginkan terjadi pada diri Anda. Setelah Anda mengetahui apa yang tidak Anda inginkan, dari setiap yang tidak diinginkan itu kemudian buat kontras dan bertanyalah pada diri sendiri: “Jadi, apa yang sesungguhnya saya inginkan?”

Michael J. Losier dalam bukunya Law of Attraction memberikan contoh menarik sebagai berikut:

Yang Tidak Diinginkan
1. Uang saya tak cukup
2. Banyak rekening atau tagihan
3. Uang hanya cukup untuk bertahan hidup
4. Tak bisa membeli apa yang saya inginkan
5. Penghasilan tak pasti
6. Saya tak pernah memenangkan undian
7. Penghasilan saya tidak pernah meningkat
8. Rezeki keluarga saya memang seret
9. Saya harus banting tulang untuk bayar sewa
10. Masalah keuangan membuat saya stres

Yang Diinginkan
1. Uang yang berlimpah
2. Cepat dan mudah membayar tagihan
3. Selalu ada kelebihan uang
4. Selalu ada cukup uang untuk membeli apa yang saya inginkan
5. Arus pemasukan yang ajeg dari berbagai sumber
6. Sering memenangkan undian dan pemberian hadiah gratis
7. Penghasilan selalu meningkat dari sumber yang diketahui atau tidak
8. Saya mudah mencari uang
9. Pembayaran sewa lancar dan selalu punya uang
10. Tidak lagi dipusingkan masalah keuangan

Jika Anda ingin menetapkan suatu keinginan misalnya tingkat penghasilan. Peningkatan penghasilan itu sebaiknya tidak terlalu tinggi tetapi juga tidak terlalu rendah. Umumnya peningkatan yang bisa ditoleransi sekitar 20% dari tingkat penghasilan sebelumnya. Keinginan peningkatan penghasilan yang rasional dan terjangkau ini penting agar pikiran bawah sadar kita bisa menerima. Jika keinginan kita terlalu tinggi kemungkinan besar ditolak oleh pikiran bawah sadar. Akibatnya, walaupun secara logika sangat mungkin dicapai, tetapi pikiran bawah sadar menolak sehingga justru keinginan itu sulit dicapai.

Namun, bukan berarti keinginan yang terlalu tinggi itu tidak bisa dicapai. Pikiran bawah sadar Anda dapat diprogram untuk mendukung pencapaian sasaran, tujuan, atau apa yang Anda inginkan walapun secara logika tidak mungkin. Caranya? Anda bisa menggunakan doa, self hipnosys, afirmasi, dan pembiasaan.

Buat Strategi dan Bertindaklah
Seorang atlet lompat tinggi yang terbaik mungkin tanpa menggunakan alat mampu melompat paling tinggi 3 – 4 meter. Kalau atlet tadi diminta untuk melompat ketinggian 10 meter menurut Anda dia mampu atau tidak? Kalau dia diminta melompat dengan ketinggian 15 meter, 50 meter? Kalau Anda menjawab tidak mungkin, jawaban Anda salah. Yang benar adalah mungkin saja. Tergantung strateginya. Jika dia melompat tanpa menggunakan alat seperti matras, galah atau parasit bisa tidak mungkin bisa kecuali memang mau bunuh diri. Dengan menggunakan matras dan galah seorang atlit bisa melompat ketinggian 10 mter atau lebih. Dengan parasit atlit juga bisa melompat ketinggian 50 meter atau lebih.

Strategi Anda berpengaruh terhadap kegagalan ataupun keberhasilan Anda mewujudkan apa yang Anda inginkan. Seorang penjual atau agen asuransi yang memiliki rata-rata penghasilan dari komisi setiap bulan Rp 5 juta mungkinkah memiliki penghasilan rata-rata sebulan Rp 100 juta atau setahun Rp 1,2 milyar. Mungkin saja, lagi-lagi tergantung pada strateginya. Strategi penjual untuk mendapatkan komisi sebulan Rp 5 juta tentu berbeda dengan strategi untuk mendapatkan komisi sebulan Rp 100 juta. Stategi penjual itu bisa dari aspek produk yang ditawarkan, target pasar, motivasi, dan kompetensinya.

Setelah strategi ditetapkan, kita bertindak secara konsisten sesuai dengan strategi tadi. Strategi merupakan langkah-langkah jangka panjang yang akan dilaksanakan. Strategi ini diterjemahkan dalam bentuk rencana tindakan jangka pendek. Tindakan-tindakan untuk mengimplementasikan strategi hendaknya merupakan tindakan yang konsisten.

Membuat agar tindakan kita konsisten tidaklah mudah. Kita akan selalu menghadapi tantangan, rintangan, halangan, dan hambatan selama proses mencapai tujuan. Yang diperlukan adalah kita perlu memiliki kesiapan mental. Mindset kita harus berkembang. Yaitu, kita memiliki pola pikir yang berorientasi pada perubahan untuk menjadi lebih baik.

Yang perlu diingat, jika suatu saat hasil tindakan ternyata tidak sesuai dengan keinginan alias gagal, maka kegagalan itu bukanlah berarti kita bodoh atau kita tidak mampu. Kegagalan itu hanyalah hasil sementara atas tindakan dan strategi kita sebelumnya yang tidak tepat. Oleh karena itu, kita perlu terus mencari alternatif strategi dan tindakan yang tepat. Untuk itulah, kita perlu memperbaiki dan meningkatkan kompetensi kita.

Selama proses pencapaian tujuan, apapun yang terjadi, kita sebaiknya memposisikan diri sebagai orang yang sedang berkembang. Dengan mindset berkembang ini kita tidak lagi merasa takut, khawatir, cemas, apalagi putus asa. Mengapa? Karena kita terus bertumbuh dan berkembang lebih besar daripada masalah maupun kesulitan yang dihadapi.

Tahukah Anda, keputusan Anda sekarang berakibat pada hasil yang Anda peroleh di masa depan. Semua keputusan pada dasarnya baik pada waktu diputuskan karena sesuai dengan konteksnya saat itu. Agar keputusan Anda tepat dan berhasil membawa Anda pada tujuan yang diinginkan, keputusan hendaknya dibuat berdasarkan informasi yang akurat. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum membuat keputusan. Semakin banyak informasi berkualitas yang digunakan sebagai bahan pertimbangan maka keputusan Anda makin berkualitas.

Masa depan Anda terletak pada keputusan-keputusan yang Anda buat setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan setiap tahun. Putuskanlah sekarang juga kehidupan seperti apa yang ingin Anda nikmati mungkin 5 tahun mendatang, 10 tahun mendatang, atau 20 tahun mendatang. Ingat bahwa keadaan Anda sekarang adalah hasil keputusan Anda di masa lalu. Kesalahan yang terjadi di masa lalu jangan terjadi lagi di masa depan. Buatlah skenario kehidupan Anda di masa depan mulai sekarang. Bukan tidak mungkin, skenario Anda betul-betul terjadi di masa depan Anda.

Dr. Norman VincenPeale menyatakan bahwa apa yang Anda pikirkan cenderung menjadi kenyataan. Pikirkanlah yang baik-baik, niscaya kehidupan Anda akan baik-baik saja. Jauhkan imajinasi yang negatif agar tidak menjadi kenyataan. Keputusan Andalah kuncinya.***

* SSugeng Widodo adalah alumnus FISIP Universitas Indonesia tahun 1999 dan program Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Pemasaran STIE Dharma Bumiputera tahun 2002. Saat ini masih aktif sebagai Staf Ahli Direktur Utama AJB Bumiputera 1912, Trainer Motivasi berbasis NLP dan Spiritual, Kolomnis Majalah Asuransi. Ia adalah alumnus Pembelajar Writing School. Ia dapat dihubungi di: sugeng_widodo@bumiputera.com.

[Pembelajar.Com::]

INGIN CEPAT SUKSES? ''HIPNOTIS'' BOS ANDA -

Oleh: Ahmad Arwani R

Siapa sih orangnya yang tidak ingin disukai oleh atasan? Semua orang pasti berusaha keras mengambil hati “pak bos” dengan motif yang sama. Apalagi kalau bukan karir dan gaji. Dengan dipercaya oleh atasan, akan memudahkan kita untuk naik ke jenjang karir yang lebih tinggi yang otomatis gaji juga bertambah tentunya. Dan percayalah jika anda sudah mulai tidak disukai bos, bersiap-siaplah untuk introspeksi dan berbenah diri atau cari “jalan keluar (maksudnya mulailah cari kerjaan lain)”.

Saking kerasnya persaingan di dunia kerja, tak jarang teman jadi lawan dan semua cara dihalalkan untuk memenangkan hati para bos. Tak sedikit dari kita yang lupa, sehingga harus menjatuhkan kawan sekantor hanya untuk terlihat “lebih” di mata bos. Dan semua permintaan atasan kita patuhi tanpa terkecuali agar terbina hubungan baik dengannya, pokonya asal bapak senang. Padahal belum tentu permintaannya tersebut reasonable, efektif dan produktif untuk kelangsungan bisnis.

Berurusan dengan bos memang gampang-gampang susah. Sangat tergantung dari karakter bos yang dihadapi dan cara kita membawakan diri. Bagi anda yang berada dibawah seorang bos dengan wawasan yang luasdan terbuka, mau mendengar masukan, serta memberikan kesempatan untuk anda maju tentu akan sangat membantu dan berperan positif terhadap karir anda.

Namun bagaimana dengan bos pemarah, dia yang selalu benar, keras kepala, sok tahu dan “bossy”. Tentu bukan hal yang mudah untuk berkompromi dengannya bukan? Disinilah tantangannya.Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan dengan cermat sebelum berbicara kepada bos. Carilah waktu (timing) dan kondisi yang tepat untuk mengutarakan hal ini kepada bos. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal.

Jika anda memiliki gagasan yang brilian namun atasan tidak mau mendengarkannya dan kejadian ini berulang-ulang, kira-kira apa yang anda rasakan? Anda sangat mungkin akan mengalami frustasi. Setidaknya ada dua hal utama yang harus dipertimbangkan, emosi dan strategi.

Andaikan argumen anda sangat rasional dan bermanfaat, namun tidak membangkitkan emosi si bos tentunya anda akan pulang tanpa tanggapan. Tahukah anda bahwa 90% pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan emosi? Disamping argumen yang membakar emosional si bos, namun jika tidak disertai strategi implementasi dengan jelas dan efektif, kritik saran anda hanya akan berakhir di tataran ide saja.

Janganlah khawatir segalak dan susahnya seorang bos, dia tetaplah seorang manusia biasa seperti kita. Yang akan senang jika dipuji, akan marah jika kita kecewakan dan hal normal lainnya. Jadi jika kita mampu mengusik sisi kemanusiaannya, si bos pasti akan tergerak.

Dalam menghadapi “Bos yang susah” ada beberapa hal yang harus kita cermati :

1. Sabda bos tidak pernah salah
Jangan pernah sekalipun menyanggah perkataan bos saat beliau di depan umum/ sedang mempresentasikan sesuatu di hadapan banyak orang. Tahanlah sejenak jika ada ide bos yang kontraproduktif atau tidak efektif. Biarkanlah semua berjalan sesuai yang bos inginkan. Kenapa ini tidak boleh dilakukan? Jelaslah karena setiap orang punya ego dan gengsi yang harus dijaga dan tonjolkan ketika berada di depan orang banyak yang merupakan bawahan dia. Walaupun mungkin ide yang kita sampaikan itu bermaksud baik, namun belum tentu akan diterima dengan pikiran terbuka. Jadi bersabarlah sejenak untuk tidak memberi masukan saat itu. Namun catat, ini hanya sementara. Kita akan melakukan “serangan balik” kemudian.

2. Kemukakan ide saat hatinya senang
Sesulit-sulitnya orang jika pada saat hatinya senang dia akan menularkan perasaan tersebut kepada orang lain. Coba ingat kembali, saat kita kembali berlibur atau baru saja naik gaji tentunya hati kita sedang senang alang kepalang dan hal tersebut kita tularkan ke lingkungan kita bukan. Begitu juga saat Pak Bos sedang senang karena baru saja ulang tahun atau mendapatkan pujian/compliment dari partner atau orang lain, inilah saatnya untuk masuk dengan ide kita. Pasti dengan senang hati si Bos akan mendengarkan dengan lebih baik dibanding biasanya.

3. Terapkan hukum kesamaan
Tentunya pastikan bahwa ide atau saran yang anda sampaikan sejalan dengan gaya kepemimpinan, policy yang dibuatnya, atau strategi yang sudah si bos canangkan. Bawalah ide tersebut dari kesamaan concern anda dengan pemikiran si bos. Jangan lupa pastikan bahwa ide tersebut berawal dari pemikiran beliau yang kemudian menginsprasikan hal ini. Dengan cara ini anda telah memancing “si bos serba susah” mulai menggeliat karena emosinya akan terpancing. Dia pasti akan tergerak mendengar seluruh perkataan anda. Karena orang tidak mau dianggap plin-plan bukan? Semua orang pasti ingin menjadi orang yang penuh komitmen dan bertanggung jawab. Sisi inilah yang kita manfaatkan.

4. Gunakan data faktual dibanding dengan asumsi
Di saat anda mendapatkan kesempatan untuk “ngobrol” dengan si bos, kemukakanlah segala conern dan ide di dukung dengan data-data faktual di lapangan. Hindarkanlah sejauh mungkin asumsi. Semakin sedikit anda melibatkan asumsi maka saran anda akan sangat tinggi keshahihan dan kualitasnya. Dengan memberikan data faktual ini si bos akan mulai terbuka matanya dan menyimak lebih seksama saran anda.

5. Ceritakan berita baiknya
Jika terlihat bos mulai dengan cermat melihat dan mempertimbangkan paparan anda, jangan lupa berikan berita baiknya. Sampaikan dengan sederhana tentang imbalan atau manfaat dari diterapkannya saran anda. Jika manfaat yang diperoleh bisa diangkakan atau diuangkan, bos manapun pasti akan terbalalak matanya dan ngiler. Karena ini merupakan insentif bagi si bos sendiri. Kekuatan uang tidak pernah berbohong..

6. Berikan gambaran detailnya
Nah pada saat inilah anda sudah siapkan bagaimana penerapan sarn anda tersebut. Semakin detail akan semakin bagus, karena akan memberikan gambaran detail mengenai pelaksanaan kepada si bos akan membuat paket saran anda akan ampuh. Catatan terpenting pada tahapan ini adalah siapa melakukan apa dan kapan.

7. Sertakan tangan bos
Last but not least, tangan bos harus diajak sebagai penentu kebijakan. Sampaikan bahwa ide ini hanya bisa berjalan jika mendapat dukungan dan support darinya. Pastikan bahwa tanpa kehadirannya tingkat kesuksesan projek tersebut tidak dijamin. Langkah terakhir ini adalah langkah yang krusial dan penting karena disinilah kita “mengikat” komitmen si bos untuk mendukung saran anda terlaksana…

* Ahmad Arwani R lahir di Semarang pada 1 Juni 1977. Ia tinggal di Kompleks Mutiara Elok Blok B-16 Kreo Selatan, Ciledug, Tangerang, Ban

MODAL SPIRITUAL



Oleh: M. Iqbal Dawami

Modal Spiritual Modal spiritual adalah istilah yang dipopulerkan oleh Danah Zohar. Kedua kata ini menjadi konsep yang dikembangkan olehnya dan suaminya, Ian Marshall. Awal mulanya ia menemukan konsep ini saat ia digerakkan oleh sebuah ketakutan pada dunia yang bergerak di sekitarnya. Ketika itu anaknya bertanya untuk apa ia hidup di dunia, lalu pertanyaan ke manakah ia seharusnya melanjutkan pendidikan kelak.

Setelah berpikir lama, Zohar akhirnya menemukan jawabannya. "Hidup manusia adalah untuk memberi arti bagi manusia lain dan lingkungannya," katanya. Pertanyaan sang anak kemudian menamparnya lebih keras. Ia mengembalikan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. "Saat itu saya merasa berada pada titik terendah kehidupan," katanya.

Di mata Zohar, perilaku lingkungan dan budaya Barat menjerumuskannya ke dalam depresi berat. "Saya menghadapi banyak pengkhianatan personal, ketololan, kesembronoan, atau kekerasan yang dipaparkan terus-menerus sepanjang hari," katanya.

Saat ia berbicara dengan banyak orang mengenai ciri-ciri kecerdasan manusia, semua orang ingin tahu bagaimana kecerdasan itu bisa digunakan untuk menggali dan mendapatkan sebanyak mungkin uang. Semuanya telah diukur dengan kapital, alias duit. Dan di mata Zohar, cara-cara seperti itu sudah salah kaprah. "Inilah kapitalisme cara Barat, monster yang memangsa dirinya sendiri."

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kinerja perusahaan sangat tergantung pada sejauh mana perusahaan berpegang pada prinsip etika bisnis di dalam kegiatan bisnis yang dilakukannya. Untuk berperilaku sesuai dengan kaidah etik perusahaan memeliki berbagai perangkat pendukung etik, yang salah satunya adalah manusia yang memiliki moral yang maengharamkan perilaku yang melanggar etik. Kehancuran dan kemunduran berbagai perusahaan besar di USA seperti Enron (perusahaan listrik terbesar), dan Arthur Anderson (perusahaan konsultan keuangan yang beroperasi di seluruh dunia) disebabkan oleh perilaku bisnis yang melanggar etika bisnis. Demikian pula dengan kasus krisis keuangan di Indonesia tahun 1997-1978 yang membuat perbankan Indonesia bangkrut karena kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) adalah disebabkan oleh perilaku para pemain bisnis yang tidak berpegang pada etika bisnis.

Banyak juga hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang berpegang pada prinsip etika memiliki citra perusahaan yang baik. Citra ini tidak hanya membuat orang suka membeli produk dan jasa perusahaan tersebut, tetapi juga membuat harga saham di pasar bursa meningkat secara signifikan. Selain itu perusahaan yang berperilaku etikal juga akan menarik banyak calon pekerja yang berkualitas untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan tersebut (lihat Strategic Finance, vol 83, No. 7, p.20, January 2002). Sebaliknya kalau sebuah perusahaan melakukan perilaku yang melanggar etika bisnis maka kerugianlah yang akan dialaminya. Sebagai contoh sepatu Nike kehilangan banyak pembeli setelah ada publikasi yang luas mengenai anak-anak di bawah umur yang bekerja di perusahaan nike di negara dunia ke tiga pembuat sepatu Nike ( Hawkins, D.I; Best, R.J. & Coney, K.A: Consumer Behavior: Building Marketing Strategy, McGraw-Hill, 1998 , p. 16).

Zohar menceritakan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti coca-cola, british petroleoum, van city, merck (perusahaan farmasi terbesar di amerika) dan dan amul (koperasi susu terbesar di Gujarat) yang mengoptimalisasikan modal spiritual ini. Secara sederhana, modal spiritual menunjuk pada modal dasar yang dimiliki perusahaan-perusahaan itu untuk bekerja dan berusaha tidak semata-mata demi keuntungan finansial dan materi. Ada dimensi jangka panjang yang lebih diharapkan melalui optimalisasi modal spiritual ini.

Oleh karena itu untuk mengubah budaya bisnis agar tidak berorientasi pada laba semata, menurut Danah, para pemimpin seharusnya memadukan tiga modal yang dimiliki. Pertama adalah modal material. Ia dibentuk oleh kecerdasan rasional (IQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan rasional seperti, "apa yang saya pikir".

Kedua, modal sosial, diukur dengan tingkat kepercayaan di masyarakat, saling merasakan, empati, serta komitmen terhadap kesehatan masyarakat. Ini dibentuk oleh kecerdasan emosional (EQ), berfungsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perasaan, seperti, "apa yang saya rasakan".

Ketiga adalah modal spiritual—di dalamnya termasuk modal moral—dibentuk oleh kecerdasan spiritual (SQ), dibangun dengan mengeksplorasi secara spiritual pertanyaan-pertanyaan seperti "untuk apa saya ada, apa tujuan hidup saya, apa yang sebenarnya ingin saya capai".

Modal spiritual melampaui modal intelektual yang mendasarkan pada paradigma newtonian dan materialisme yang melihat kehidupan secara linear. Dengan modal ini kehidupan dapat dikendalikan dan dikuasai, serta memberi keuntungan dalam bisnis. Modal spiritual juga melampaui modal sosial, yaitu kekayaan material dan keuntungan sosial yang didapat suatu masyarakat dengan mengandalkan sikap saling percaya (trust).

Menurut Zohar, banyak cara sederhana untuk mulai menerapkan modal spiritual di satu perusahaan. Ia memberi contoh sejumlah perusahaan yang menciptakan kebijakan peduli lingkungan serta menyisihkan sebagian modal perusahaan untuk mengembangkan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. "Meski kelihatannya mengeluarkan biaya lebih besar, banyak perusahaan yang tidak sadar bahwa modal spiritual akan mendatangkan kelanggengan bisnis dalam jangka panjang."

Tentu saja modal spiritual juga dapat diterapkan dalam kehidupan masing-masing manusia. Hal-hal sepele namun dapat memberikan keuntungan yang sangat memuaskan, yang tidak bisa diukur dengan kapital.

Di bawah ini ada dua kisah tentang bagaimana bagaimana seseorang dapat menerapkan modal spiritual dalam kehidupannya.

Pertama, kisah Taufik Pasiak yang membantu dua sahabatnya yang sedang membutuhkan uang.

“Kamis lalu, secara tiba-tiba dua orang kenalan dekat menelepon saya. Ini waktu yang tidak lazim bagi mereka menelepon. Karena itu, saya sangat heran. Biasanya orang yang menelepon tiba-tiba ini kalau bukan hendak berkonsultasi soal penyakit pasti mau [injam uang. Rupanya dugaan saya yang kedua yang benar. Dua kenalan ini bermaksud meminja uang; kenalan pertama untuk mengongkosi mertuanya yang sakit, kenalan kedua untuk membayar bunga atas barang gadaian yang hampir jatuh tempo. Uang yang dipinjam pun tidak banyak dan mereka mohon dalam waktu setengah jam saya dapat memberikannya. Saya bukan orang kaya, apalagi dengan uang berlimpah. Karena itu, saya sedikit defensif dan kaget. Syukur, pikiran waras saya mengatakan bahwa orang-orang ini harus dibantu karena saat ini mereka memerlukannya. Kalau ditunda, seberapa pun uang yang saya berikan, tidak lagi bermakna. Mereka butuh hari ini karena itu harus saya berikan hari ini juga.

Singkat kata, uang yang diberikan saya anggap tidak dipinjam, tetapi hadiah dari saya bagi mereka. Saya sedikit plong karena tidak memberikan utang pada orang lain dan membuat kesulitan bagi mereka ketika ditagih. Pun bagi saya yang menagih. Dalam pikiran saya juga berkelebat banyak kejadian serupa yang memberikan hikmah sangat besar. Saya beroleh banyak keuntungan, yang bukan material, untuk sesuatu yang pernah saya berikan.”

Kedua, kisah yang saya kutip dari kisah yang dituturkan Ary Ginanjar, pengarang ESQ.

“Ada kisah menarik dari Dr Sheikh Muszaphar angkasawan Malaysia, satu-satunya orang Melayu yang pergi ke angkasa. la terpilih dari 11000 orang. Ketika turun ia tersenyum bahagia dan berkata, "Di angkasa saya menemukan jati diri saya. Selama ini saya mencarinya dengan pergi ke Kamboja, Afghanistan, untuk kegiatan kemanusiaan, namun saya selalu merasakan kekosongan yang tidak saya mengerti. Di Angkasa saya melihat keindahan ciptaan Tuhan hingga menyentuh saya secara spiritual. Saat ini saya tidak lagi melihat hal kecil dalam kehidupan, saya bicara kemiskinan, kemelaratan, perdamaian dan persoalan dunia yang kini menjadi rumah saya."

M.IQBAL DAWAMI Penulis buku The True Power of Writing;Menulis itu Menyembuhkan (2007), pemilik blog http://penulispinggiran.blogspot.com. dan http://resensor.blogspot.com

Uang

Oleh: J.I. Michell Suharli

Salam Winner!
Cicero menuliskan bahwa tak ada benteng yang demikian kuat sehingga uang tak dapat memasukinya. Kehidupan sosial, politik, religius, dan pendidikan menjadi lembab menyerap uang. Lahirlah ungkapan “Uang memang tidak menentukan segalanya, namun tanpa uang segalanya menjadi tidak menentu”. Di hadapan uang, semua orang menjadi sama. Seandainya saja cinta seperti itu !

MIND-SET UANG
Berdasarkan pola pikir tentang uang, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memandang uang sebagai sumber segala yang tidak baik. Disini uang dilihat sebagai sumber kejahatan yaitu: perampokan, penculikan dan pembunuhan. Uang mampu menganugerahi orang selembar ijazah. Uang menjadi sebab putusnya tali persaudaraan. Singkatnya, mereka memandang uang punya kuasa kejahatan yang membungkam suara hati.

Kelompok kedua memandang uang sebagai penopang hidup. Kelompok ini berpikir bahwa kita tidak mungkin membuat segala hal menjadi baik tanpa uang. Mereka memandang positif mengenai sosok “Robinhood”. Kelompok ini mengatakan bahwa tidak mungkin menolong orang yang kelaparan dengan tangisan. Kita diajak untuk mencintai dan bijaksana kepada UANG. Semakin orang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan bijaksana menggunakannya maka semakin bahagia dan berbudi.

Kelompok ketiga memandang uang mempunyai sifat netral. Pribadi lepas pribadi yang membuat orang bertindak positif maupun negatif karena uang. Uang bisa memisahkan tetapi juga menyatukan, uang bisa jadi akar kejahatan tetapi juga akar kebaikan. Bagi kelompok ini tidak ada yang salah dari uang, seperti air, api dan angin. Uang juga yang akan menyejahterakan tetapi juga menyengsarakan banyak orang. Kebijaksanaan manusialah yang menentukan apakah uang jadi malaikat, atau jadi iblis.

BELIEVE UANG
Iblis tampak dalam keserakahan Si Kaya Sesat dengan cara korupsi, kelaliman, kolusi dan nepotisme. Praktek bisnis kejam, dunia hitam dan judi menjadi keseharian orang jenis ini. Iblispun bertepuk tangan ketika Si Kaya Sesat menipu Si Miskin, suami-istri bercerai karena krisis uang, kakak-adik tak tegur sapa karena rebutan warisan, mahasiswa lulus setelah menyogok dosen dan seterusnya.

Hardiman (2003) mengungkapkan ‘semua manusia sama dihadapan uang’, bisa sama benarnya dengan ‘semua manusia sama dihadapan Tuhan’. Uang begitu di-Tuhankan sehingga begitu di-cinta dan di-kejar. Satu cara menggapai Tuhan adalah meraup uang dengan cara apapun. Drama seperti itu mem-program believe kita bahwa uang adalah akar segala kejahatan.

Iblis juga tampak dalam cerita-cerita seru Si Miskin Jahat. Orang ini menyambung hidup dengan uang yang diperoleh dari kejahatannya. Iblis bersorak sorai ketika ada yang terbunuh demi uang, perampok tertembak, kapak merah beraksi sampai pengangguran yang dibayar untuk melakukan kekerasan dalam unjuk rasa. Seharusnya kisah Si Miskin Jahat dapat mem-program ulang believe kita bahwa tidak punya uang adalah akar segala kejahatan.

PEMENANG tidak pernah membiarkan iblis bersorak. PEMENANG selalu mampu mengalahkan iblis dengan memilih believe yang tepat. Dalam hal uang, PEMENANG selalu menolak menjadi Si Kaya Sesat ataupun Si Miskin Jahat. PEMENANG adalah orang-orang dalam kelompok Si Kaya Budiman. PEMENANG selalu punya harapan kepada uang yang dimilikinya, untuk mampu mengalahkan kemiskinan orang lain. Harapan agar believe orang banyak tentang uang berubah menjadi lebih positif.

Satu hal yang harus diingat tentang berharap adalah pesan manis dari Khalil Gibran: “Jangan pernah berharap apapun dari hutan, bukan karena hutan tidak punya harapan, melainkan karena hutan adalah pusat pengharapan itu sendiri “

Dan diri kitalah hutan itu melalui believe yang positif tentang uang![jims]

J. I. Michell Suharli Writer . Inspirator . eduitainNER WINNER institute - training & education - Inspirator “Winning Mindset @ Work” Penulis buku “Winning Strategy for Winning People” Email: jimsmichell@yahoo.com

instanx

tukar link

Total Tayangan Halaman